Itu mudah, tak usalah bertegur sapa dengan saya selama beberapa hari. Kalau perlu jauhi saya dan lingkungan saya. Niscaya anda tak kan lagi mengenal saya. Mudah toh?
Namun ada yang menampik bahwa saya kenal kamu berarti saya kenal kamu untuk selamanya. Kok bisa? Ya wong sudah kenalan, jadinya ya tau wajah, tau nama, dan (sedikit) tau perilaku. Betul toh?
Lalu apa maksudnya perkataan,
“Aku sudah tidak kenal kamu lagi Wij!”.
Menurut saya sih perkataan itu tak lain dan tak bukan adalah pemaksaan penyingkatan dari perkataan,
“Wijna, kelakuanmu saat ini sungguh berbeda dengan kelakuanmu saat aku mengenalmu dahulu!”.
Anda setuju?
Seperti waktu yang kian lama kian berlalu, adapun manusia tak kan pernah luput dari perubahan. Apakah itu sesuatu yang buruk? Itu relatif, sungguh relatif.
Adapun sebenarnya mereka yang menyerukan perkataan tersebut adalah mereka yang tak menerima perubahan. Mungkin tak sepenuhnya benar-benar tak menerima. Mungkin hanya perlu jeda untuk beradaptasi.
Masa lalu itu sudah berlalu. Tak ada yang bisa diperbuat untuk merengkuhnya kembali. Tak kan bisa kita mengubah masa lalu menjadi masa datang. Aku terbayang percapakanku dengan temanku beberapa waktu silam,
“Tak ada gunanya kamu mengharap masa lalu itu datang kembali. Apa yang kamu bisa lakukan saat ini adalah kamu bangkit dan berjuang demi masa depanmu. Demi apa yang kamu cita-citakan.”
Pepatah mblusuk mengatakan bahwa tiap saat ada orang yang datang dan orang yang pergi. Semuanya berubah seiring waktu yang berlalu. Jeda waktu yang terlalu lama bisa jadi akan membuat kita tak mengenal lagi orang yang kemarin pernah datang.
Jadi, siapa yang anda kenal?