“Aku mau jadi guru!”
Aku sering mendengar ucapan-ucapan seperti itu dari orang-orang disekelilingku. Bukankah pada hakikatnya setiap orang itu guru? Apa yang kita perbuat secara tak langsung dapat menjadi teladan bagi yang lain?
Namun guru yang dimaksud disini adalah guru sebagai profesi. Kasarnya, mereka yang diupah untuk memberikan pelajaran kepada sejumlah anak-didik. Baik di sekolah maupun di perguruan tinggi.
Yang bikin saya penasaran adalah motivasi mereka jadi guru.
Setinggi-tingginya motivasi, menurut saya adalah menjadi guru sebagai sebuah pengabdian. Saya sengaja memberi garis bawah pada kata pengabdian, itu sebabnya praktik pengabdian di lapangan akan selalu sangat sulit dilakukan. Separah-parahnya, rela mengajar tidak dibayar.
Lha bukankah guru itu mengemban tugas yang sangat mulia yaitu memberikan pelajaran? Tugas yang sangat mulia itu apakah lantas masih mulia apabila disejajarkan dengan imbalan harta? Yah, harusnya kalau motivasinya seperti ini guru harus siap hidup melarat.
Dalam hidup yang penuh dengan seabrek tuntutan, agaknya motivasi tak pernah dipatok terlalu tinggi. Realistis ajalah, begitu kata orang-orang.
Jadi ya motivasi jadi guru menurun. Jadi guru karena bergelar PNS. Jadi guru karena beban pekerjaan ringan. Jadi guru karena banyak waktu luang. Jadi guru karena tak terjerat birokrasi.
Hal-hal yang seperti itu mencitrakan profesi guru adalah sebuah profesi yang amat nyaman. Tapi toh kenyataannya tidak begitu.
Buat saya pribadi, mengajar orang agar orang itu paham ilmu, susahnya bukan main. Itu sesuai pengalaman saya membantu kawan-kawan belajar pas kuliah dahulu. Apalagi sistem pendidikan kita sekarang ini mengharuskan satu guru mengajar banyak murid.
Kadang saya tertawa melihat polah teman-teman saya. Diantara mereka banyak yang memberi les privat pada anak-anak sekolah. Namun kalau ditanya tentang kuliah, mereka mundur, beralasan tak mengerti. Kadang saya ragu akan kredibilitas mereka sebagai pengajar. Apa mereka benar-benar pantas mengajar?
Kalau mau menyalahkan, mungkin kita semua sepakat menuding sistem pendidikan kita sebagai biang kerok. Yah mau gimana lagi, jumlah murid dan jumlah guru tak pernah imbang. Menurut saya konsep yang paling ideal itu ya satu murid dengan satu guru. Ilmu yang disampaikan akan lebih mengena. Ah, tapi di masa sekarang ini, hal seperti itu jelas akan berbenturan dengan faktor ekonomi dan SDM.
Hal itu terbesit di benakku ketika membaca berita bahwa banyak siswa-siswi SMU tak lulus UAN. Muncullah pertanyaan, “Ini memang muridnya yang goblok atau guru-gurunya yang goblok ngajarnya ?”
Seandainya saya tanya ke pihak murid, umumnya mereka akan menyalahkan soal yang terlampau susah dan mungkin akan menyindir guru yang tak becus mengajar. Ah, saya tak mau bertanya ke pihak guru, karena jelas mereka sudah dipusingkan dengan prestasi buruk mereka yang gagal meluluskan anak didiknya.
Saya pindah topik sebentar ke perihal soal. Saya anggap soal itu adalah tantangan, problema yang mesti dipecahkan. Menurut saya, soal-soal di ujian itu bukan soal yang mustahil untuk dipecahkan. Tak seperti soal Lumpur Sidoarjo yang hingga kini belum ada jawabannya.
Melatih murid untuk memecahkan soal juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Hanya saja kita perlu ingat bahwa kemampuan setiap orang itu berbeda. Belajar itu butuh proses. Butuh benar dan salah. Kita kadang lupa hal itu sebab belajar buat kita adalah berusaha menyelesaikan masalah dengan jangka waktu yang amat terbatas. Kita pun kini menilai hasil proses belajar dengan untaian angka dan huruf.
Ketika segalanya diperingkas, akan ada makna yang terlepas.
Menjadi guru di jaman seperti ini, terus terang, amat sangat berat. Tapi saya menghargai mereka yang kini menjadi guru. Yah, guru sama seperti petani, tak ada guru maka kelak tak kan ada orang pintar. Ups, pintar itupun sebenarnya adalah sesuatu yang bermakna ambigu.
Saat ini, jelas kita butuh perubahan, dan perubahan itu mungkin datang dari anda. Ketika anda mencoba menjadi berbeda dari yang lain.
Jadi, masih mau jadi guru?