Maw Jadi Guru?

“Aku mau jadi guru!”

Aku sering mendengar ucapan-ucapan seperti itu dari orang-orang disekelilingku. Bukankah pada hakikatnya setiap orang itu guru? Apa yang kita perbuat secara tak langsung dapat menjadi teladan bagi yang lain?

Namun guru yang dimaksud disini adalah guru sebagai profesi. Kasarnya, mereka yang diupah untuk memberikan pelajaran kepada sejumlah anak-didik. Baik di sekolah maupun di perguruan tinggi.

Yang bikin saya penasaran adalah motivasi mereka jadi guru.

Setinggi-tingginya motivasi, menurut saya adalah menjadi guru sebagai sebuah pengabdian. Saya sengaja memberi garis bawah pada kata pengabdian, itu sebabnya praktik pengabdian di lapangan akan selalu sangat sulit dilakukan. Separah-parahnya, rela mengajar tidak dibayar.

Lha bukankah guru itu mengemban tugas yang sangat mulia yaitu memberikan pelajaran? Tugas yang sangat mulia itu apakah lantas masih mulia apabila disejajarkan dengan imbalan harta? Yah, harusnya kalau motivasinya seperti ini guru harus siap hidup melarat.

Dalam hidup yang penuh dengan seabrek tuntutan, agaknya motivasi tak pernah dipatok terlalu tinggi. Realistis ajalah, begitu kata orang-orang.

Jadi ya motivasi jadi guru menurun. Jadi guru karena bergelar PNS. Jadi guru karena beban pekerjaan ringan. Jadi guru karena banyak waktu luang. Jadi guru karena tak terjerat birokrasi.

Hal-hal yang seperti itu mencitrakan profesi guru adalah sebuah profesi yang amat nyaman. Tapi toh kenyataannya tidak begitu.

Buat saya pribadi, mengajar orang agar orang itu paham ilmu, susahnya bukan main. Itu sesuai pengalaman saya membantu kawan-kawan belajar pas kuliah dahulu. Apalagi sistem pendidikan kita sekarang ini mengharuskan satu guru mengajar banyak murid.

Kadang saya tertawa melihat polah teman-teman saya. Diantara mereka banyak yang memberi les privat pada anak-anak sekolah. Namun kalau ditanya tentang kuliah, mereka mundur, beralasan tak mengerti. Kadang saya ragu akan kredibilitas mereka sebagai pengajar. Apa mereka benar-benar pantas mengajar?

Kalau mau menyalahkan, mungkin kita semua sepakat menuding sistem pendidikan kita sebagai biang kerok. Yah mau gimana lagi, jumlah murid dan jumlah guru tak pernah imbang. Menurut saya konsep yang paling ideal itu ya satu murid dengan satu guru. Ilmu yang disampaikan akan lebih mengena. Ah, tapi di masa sekarang ini, hal seperti itu jelas akan berbenturan dengan faktor ekonomi dan SDM.

Hal itu terbesit di benakku ketika membaca berita bahwa banyak siswa-siswi SMU tak lulus UAN. Muncullah pertanyaan, “Ini memang muridnya yang goblok atau guru-gurunya yang goblok ngajarnya ?”

Seandainya saya tanya ke pihak murid, umumnya mereka akan menyalahkan soal yang terlampau susah dan mungkin akan menyindir guru yang tak becus mengajar. Ah, saya tak mau bertanya ke pihak guru, karena jelas mereka sudah dipusingkan dengan prestasi buruk mereka yang gagal meluluskan anak didiknya.

Saya pindah topik sebentar ke perihal soal. Saya anggap soal itu adalah tantangan, problema yang mesti dipecahkan. Menurut saya, soal-soal di ujian itu bukan soal yang mustahil untuk dipecahkan. Tak seperti soal Lumpur Sidoarjo yang hingga kini belum ada jawabannya.

Melatih murid untuk memecahkan soal juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Hanya saja kita perlu ingat bahwa kemampuan setiap orang itu berbeda. Belajar itu butuh proses. Butuh benar dan salah. Kita kadang lupa hal itu sebab belajar buat kita adalah berusaha menyelesaikan masalah dengan jangka waktu yang amat terbatas. Kita pun kini menilai hasil proses belajar dengan untaian angka dan huruf.

Ketika segalanya diperingkas, akan ada makna yang terlepas.

Menjadi guru di jaman seperti ini, terus terang, amat sangat berat. Tapi saya menghargai mereka yang kini menjadi guru. Yah, guru sama seperti petani, tak ada guru maka kelak tak kan ada orang pintar. Ups, pintar itupun sebenarnya adalah sesuatu yang bermakna ambigu.

Saat ini, jelas kita butuh perubahan, dan perubahan itu mungkin datang dari anda. Ketika anda mencoba menjadi berbeda dari yang lain.

Jadi, masih mau jadi guru?

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , | 8 Komentar

Maw, Apa Itu Bhinneka Tunggal Ika?

Seorang anak kecil bertanya padaku tentang arti kalimat dibawah kaki seekor burung garuda. Jawaban dari anak itu sudah terpatri di otakku. Bahkan mungkin kita semua tahu.

Namun seorang kawan akhir-akhir ini bertanya kepadaku;

Apakah Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-Beda Tapi Tetap Satu Jua, Unity in Diversity, benar-benar dapat dilaksanakan?

Sadar ndak sih kamu Wij? Ini Indonesia! Ada lebih dari 17 ribu pulau dan dihuni 200 juta jiwa. Itu artinya ada 200 juta kepala yang punya pemikiran sendiri-sendiri.

Dan kalau saya pikir ada benarnya juga. Sewaktu seorang manusia terlahir ke dunia sudah diberi label pembeda. Laki-laki atau perempuan. Lantas, diikuti sekian banyak pembeda lainnya, seperti warga negara, suku bangsa, agama, dan lain sebagainya. Saya yakin, masih banyak hal-hal lain yang membedakan antara kita dengan orang disekitar kita.

Itu yang kiranya bikin saya garuk-garuk kepala.

Apa yang dimaksud dengan sebuah kebersamaan? Apakah menyatukan semuanya, lantas membuat semua serupa menjadi satu? Yang berarti menyangkal perbedaan yang kita miliki?

Problema kian pelik tatkala hidup bagaikan tersaji dalam sebuah mangkok racikan sang koki. Kiranya sang koki memberi rasa tunggal; entah asin, manis, asam, atau pahit, pastilah ada lidah yang tak berkenan. Kiranya sang koki tak memberi rasa, ah…pastilah hambar. Oleh karena itu rasa tak pernah tunggal yang tersaji dalam sebuah mangkok tunggal.

Yang berarti Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah semboyan semu, bertolak belakang dari kenyataan?

Namun, dengan berbagai banyak perbedaan dan berbagai benturan yang terjadi, hingga saat ini kita masih hidup menjalani hari-hari kita. Bukankah itu yang membuat hidup kian hari menjadi tambah menarik?

Betul?

Yogyakarta, April 2010

Wihikan Mawi Wijna

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | 1 Komentar

Maw Ingkari Gelarmu?

Habis lulus kuliah, ada dua hal yang pingin saya lakukan. Tapi, sampai sekarang satu pun belum ada yang kesampaian.

Pertama, melarung ijazah saya di kawah Gunung Merapi. Kedua, melarung ijazah saya di laut selatan.

Kalau saya perhatikan dengan seksama. Apalah yang istimewa dari ijazah saya itu? Seandainya tersiram air pun bakal basah. Apalagi kalau terkena bara, jelaslah kan terbakar.

Saya pun sesekali geli sendiri. Empat setengah tahun kuliah, hanya untuk mendapat cinderamata bertanda-tangan Pak Rektor UGM. Padahal, dulu saya putar otak 360 derajat pas membuat skripsi.

Plak! Omongan seorang kawan lantas menampar saya.

Semestinya Wijna bersyukur bisa lulus kuliah. Coba lihat mereka yang ndak punya biaya. Coba lihat mereka yang tersisih saat ujian masuk. Coba lihat mereka yang sampai sekarang terkatung-katung mengenyam ilmu.

Plak! Saya tampar kawan saya dengan kertas ijazah saya.

Engkau saya tampar dengan hasil kuliah saya selama empat setengah tahun.

Kami pun sontak tertawa.

Apakah saya menganggap remeh ini semua? Nyatanya, tingkat pengangguran intelektual di negara kita masih tinggi. Kalau pun punya pekerjaan, tak jarang pekerjaan tak selaras dengan gelar yang tertera di lembar ijazah.

Seorang kawan pun berkata padaku.

Ibaratnya kamu itu hidup mesti mengarungi laut. Kamu kuliah, maka kamu punya kapal untuk mengarungi laut. Lha ini, bukannya enak naik kapal, malah kamu berenang di laut!

Tak selamanya naik kapal asik ah. Di Jakarta yang ibarat laut banyak ikannya. Naik mobil kena macet, malah jadi lebih lambat daripada jalan kaki.

Saya pun lebih senang tak mencantumkan gelar dibelakang nama saya. Saya melihat itu sebagai formalitas, bahkan aspek politis. Seperti gelar saya menandakan saya lebih pintar dari sampeyan yang tanpa gelar.

Jadi, ketika seorang kawan tahu kalau pekerjaan yang saya geluti sekarang, tak selaras dengan gelar saya, berujarlah ia.

Lha kalau gitu ngapain kamu dulu capek-capek kuliah kalau nyatanya kamu sekarang kerja kayak gini?

Itu bisa saya balas,

Lha kuliah kan juga mengajari berbagai macam hal yang tak bisa dinilai A, B, C, D, atau E.

Lha terus kawan saya tanya lagi.

Lha terus kenapa sekarang kamu ndak kerja pakai gelarmu itu?

Mulanya, saya mau menjawab kalau dewasa ini ada ketidak-selarasan antara potensi lulusan akademisi dengan tuntutan dunia kerja. Tapi toh saya ndak menjawab itu. Karena pasti nanti ujung-ujungnya menyalahkan ketidak-becusan pemerintah. Atau malah menyalahkan SDM yang tidak multi-potensi.

Saya jawab aja.

Karena ini hidup, dan aku melakoni hidupku sesuai kemauanku sendiri.

Pikirku, kalaupun aku mau jalan jongkok dari kota Jogja sampai Parangtritis, itu pun sah-sah saja.

Aku memandang sebentar ijazah kuliahku. Lantas memasukkannya ke lemari.

Hidup tak hanya selembar kertas ijazah kan ya?

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | 2 Komentar

Maw, Apa Bahasamu?

“Ya, Tuhan!”, saya nepok jidat.

“Ternyata saya ndak bisa bahasa Indonesia!”.

Bahasa Indonesia kan bahasa kesatuan. Lha gimana bangsa kita mau bersatu kalau saya ndak bisa berbahasa Indonesia? Kalau saya masih asal comot dan pasang kosakata sana-sini?

“Ya, Tuhan!”, jidat saya tepok lagi.

“Ternyata saya juga ndak bisa bahasa Jawa!”

Bahasa Jawa kan bahasa daerah suku saya. Lha gimana saya mau melestarikan budaya bangsa kalau saya ndak bisa berbahasa Jawa? Kalau saya masih berbicara campur-aduk ngoko dan krama?

“Ya, Tuhaan!”, lagi-lagi saya tepok jidat.

“Ternyata saya ndak bisa ngerti bahasa Inggris!”

Bahasa Inggris kan bahasa internasional. Lha gimana saya mau menjalin relasi dengan bangsa luar kalau saya ndak bisa berbahasa Inggris? Apalagi di jaman sekarang ini, bahasa Inggris seakan menjadi syarat wajib mendapatkan limpahan rejeki.

Tapi…

“Ya, Tuhaaan!”, saya ndak nepok jidat karena udah perih.

“Ternyata saya sama sekali ndak bisa bahasa Arab!”

Agama saya, Islam, kan memakai Bahasa Arab. Kalau saya ndak bisa Bahasa Arab bagaimana saya mau mendalami agama saya? Kalau saya hanya bisa baca tanpa ngerti artinya.

Ini distorsi.

Ketika manusia dihadapkan dengan ragam bentuk tata-cara berkomunikasi.

Ketika manusia lupa makna sesungguhnya dari komunikasi tersebut.

Bahasa apa yang bisa menyatukan manusia?

Ya Tuhan, bahasa apa yang Engkau gunakan?

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | 1 Komentar

Maw Apa Mereka?

“Apa mau mereka!?”

Aku cuma bisa terdiam mendengar apa yang diucapkannya. Melihat apa yang ditunjuknya. Aku berharap tak mendengar. Aku pun berharap tak melihat. Namun aku tak bisa mengelak dari semua kenyataan ini.

“Ini sungguh aneh! Benar-benar aneh! Serasa kami dikhianati oleh apa yang menopang hidup kami selama ini.”

Dia menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.

“Tanah ini! Sudah banyak memberi kami semua kehidupan! Sungai yang tak pernah kering. Ladang sawah yang subur. Semua itu membuat kami hidup hingga saat ini.”

“Kamu tahu nak? Kami tak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk bisa hidup. Kami berbalas hidup bersama alam.”

“Tapi kini nak, semua berubah. Tak ada lagi hamparan sawah yang bisa kau temui disini. Dan sungai itu, ah, entah kapan airnya akan melimpah seperti masaku dahulu.”

Dia menuding ke arah bangunan beton itu.

“Itu semua karena mereka! Demi Tuhan! Mereka yang mengaku berpendidikan tinggi. Yang mengaku akan membuat semua orang sejahtera. Namun akibatnya hidup kami jadi sengsara. Karena mereka telah mengambil alam dari kami! Alam yang telah menghidupi kami semua!”

“Apa kamu tahu nak? Barangkali hidup di masa ini, memang tak mungkin selaras dengan alam. Entah kehidupan apa yang mereka kehendaki? Sampai-sampai mereka merebut kehidupan kami. Apa mereka tak bisa hidup seperti kami? Berbalas hidup bersama alam?”

Aku tak bisa berkata apa-apa.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Maw Banyak Peraturan?

Siang hari yang panas itu, aku ada di kawasan wisata Candi Borobudur bersama beberapa kawan. Seorang dari mereka bertanya;

Kenapa ada banyak keran untuk cuci tangan di kawasan ini. Namun tak satupun layak diminum airnya?

Aku pikir jawabannya cukup mudah,

Sebab ada banyak penjual minuman di Candi Borobudur ini. Kalau sekiranya keran itu mengalirkan air layak minum, bisa-bisa usaha mereka terhenti. Sebab pengunjung lebih memilih air serba gratis.

Kemudian, aku sempat terpikirkan sesuatu. Bagaimana suatu hal yang banyak dapat menimbulkan efek besar terhadap lingkungannya. Ambillah contoh di ibukota. Ada banyak sekali kendaraan bermotor tumpah-ruah di jalan raya. Bikin suasana padat dan tak nyaman.

Sekiranya agar semua merasa nyaman, perlu dibuatlah suatu peraturan. Contohnya ya tata-tertib berlalu-lintas, yang bila dilanggar maka pak polisi akan bertindak. Kalau di kawasan wisata Candi Borobudur itu ya peraturannya, tiap keran air tak mengalirkan air layak minum.

Tapi manusia–sebagai makhluk berpikiran bebas–senangnya ya hidup tanpa peraturan. Itu sempat juga terpikirkan olehku, mengapa sepeda bisa melenggang bebas tanpa peraturan yang mengikat. Mungkin ya itu, sebab jumlah sepeda belum banyak. Kalaupun populasi sepeda sudah melimpah ruah, mungkin akan muncul banyak peraturan.

Saat aku ceritakan pemikiran ini ke seorang kawan, ia malah tertawa seraya berujar,

Itu sebab jumlah manusia sudah kebanyakan!

Iya juga sih…

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | 3 Komentar

Maw Tak Kenal Saya?

Itu mudah, tak usalah bertegur sapa dengan saya selama beberapa hari. Kalau perlu jauhi saya dan lingkungan saya. Niscaya anda tak kan lagi mengenal saya. Mudah toh?

Namun ada yang menampik bahwa saya kenal kamu berarti saya kenal kamu untuk selamanya. Kok bisa? Ya wong sudah kenalan, jadinya ya tau wajah, tau nama, dan (sedikit) tau perilaku. Betul toh?

Lalu apa maksudnya perkataan,
“Aku sudah tidak kenal kamu lagi Wij!”
.

Menurut saya sih perkataan itu tak lain dan tak bukan adalah pemaksaan penyingkatan dari perkataan,
“Wijna, kelakuanmu saat ini sungguh berbeda dengan kelakuanmu saat aku mengenalmu dahulu!”.

Anda setuju?

Seperti waktu yang kian lama kian berlalu, adapun manusia tak kan pernah luput dari perubahan. Apakah itu sesuatu yang buruk? Itu relatif, sungguh relatif.

Adapun sebenarnya mereka yang menyerukan perkataan tersebut adalah mereka yang tak menerima perubahan. Mungkin tak sepenuhnya benar-benar tak menerima. Mungkin hanya perlu jeda untuk beradaptasi.

Masa lalu itu sudah berlalu. Tak ada yang bisa diperbuat untuk merengkuhnya kembali. Tak kan bisa kita mengubah masa lalu menjadi masa datang. Aku terbayang percapakanku dengan temanku beberapa waktu silam,

“Tak ada gunanya kamu mengharap masa lalu itu datang kembali. Apa yang kamu bisa lakukan saat ini adalah kamu bangkit dan berjuang demi masa depanmu. Demi apa yang kamu cita-citakan.”

Pepatah mblusuk mengatakan bahwa tiap saat ada orang yang datang dan orang yang pergi. Semuanya berubah seiring waktu yang berlalu. Jeda waktu yang terlalu lama bisa jadi akan membuat kita tak mengenal lagi orang yang kemarin pernah datang.

Jadi,  siapa yang anda kenal?

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Maw Tak Tersadar?

Seingatku, ia tak pernah berubah. Sehingga aku kerap mengulang pertanyaan;

“Apa yang kau keluhkan ?”

Dan dirinya akan bercerita mengenai kemalangan yang menimpanya. Bagaimana ia menjadi tak berdaya dengan segala kemalangan itu. Bagaimana ia seakan tak punya tenaga untuk bangkit. Padahal apa yang dirinya keluhkan hanyalah hal-hal sepele. Seputar wanita dan kuliah. Bukan perkara besar yang melibatkan hajat hidup orang banyak.

Untuk yang kesekian kali, aku akan kembali menyadarkannya. Bahwa dirinya terlalu melebih-lebihkan apa yang ia keluhkan. Berkali-kali pula ia tersadar. Namun berkali-kali pula ia selalu terpuruk kembali dalam jurang keluh dan kesah.

Sering aku bergumam dalam hati. Ternyata ada manusia semacam ini.

Tidak hanya aku. Beberapa diantara kami juga melakukan hal serupa. Entah sudah berapa kali kami berusaha menyadarkannya. Entah cara apa lagi yang mesti kami gunakan untuk membuatnya bangun. Ia terlalu menikmati memimpikan keluhan-keluhannya itu.

Hingga apa yang kami perbuat untuk menyadarkannya membuatnya terganggu.
Entah mengapa ia sangat menikmati mimpi berkeluh-kesahnya itu.
Entah mengapa ia menuduh kami telah mengusiknya dengan perbuatan yang tak pantas.
Entah mengapa orang yang terdekat dengannya tak juga membantu menyadarkannya.

Namun kami tak akan menyerah dan meninggalkan ia terbuai dengan keluh-kesahnya itu.
Karena kami masih menganggapnya sebagai bagian dari keutuhan kami.

Walau hanya Tuhan yang tahu segala yang kami perbuat.
Walau benar dan salah kian tersamar oleh perasaan dan alasan.
Walau hari demi hari kami semakin terpojokkan.

Kami tahu,
suatu saat ia kan tersadar,
walau itu tak kan pernah mudah,
walau ada yang harus dikorbankan.

Kelak, ia kan tersadar. Kelak, ia kan tak mengeluh lagi.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | 1 Komentar

Maw Dihargai?

Adalah sebuah kata bernama penghargaan. Tentu kita semua tahu, penghargaan berasal dari kata harga. Apakah itu harga, saya definisikan sebagai sesuatu yang punya nilai.

Tak seperti ajang penghargaan di televisi, yang segala sesuatunya serba terbatas. Dalam kehidupan nyata, siapapun bisa memberikan penghargaan. Tak pandang bulu, tak pandang kelas. Begitu pula dengan obyek yang diberi penghargaan. Kita sebut itu apresiasi publik.

Memberikan penghargaan adalah suatu bentuk perilaku. Bisa disingkat menjadi menghargai. Apa ada yang salah? Menghargai adalah paduan kata dasar harga, dengan imbuhan me-, beserta akhiran -i. Arti mudahnya adalah memberi harga.

Bicara perihal harga dan menghargai, pikiran saya langsung melayang menuju susana pasar. Ada kalanya sekerat ikan pindang tak layak dihargai Rp 4.000. Sebab mungil dan nyaris basi. Itu tak sebanding dengan penghargaan yang diberikan sang penjual. Ya, di pasar, setiap pembeli berhak menghargai apa-apa yang dijajakan oleh sang penjual. Menghargai dan mempertahankan penghargaan, tak lain adalah proses tawar-menawar.

Sebab itu, wajarlah saya tergelitik menanggapi hal-hal yang mengikut-sertakan kata menghargai. Dimana ada beberapa orang yang mesinonimkan kata tersebut dengan kalimat perintah; “Tak usahlah kau berkomentar! Terima sajalah apa adanya!”. Adapun beberapa orang yang memadankan kata menghargai dengan perilaku memberi nilai setinggi-tingginya. Melambungkan hati sang pencipta karya menuju alam kebanggaan. Itukah yang disebut dengan menghargai?

Bagi saya tetap, menghargai adalah suatu perilaku memberikan penghargaan berupa nilai kepada suatu obyek. Nilai itupun adalah suatu takaran yang tak terikat bilangan angka. Penghargaaan bagi obyek yang menurut saya buruk, tentu berbeda dari obyek yang menurut saya baik.

Semua obyek yang terpapar di hadapan publik, berhak diberikan penghargaan (dihargai). Apakah nanti nilainya negatif ataukah positif, itu akan berbeda-beda. Tergantung kepada sang pemberi harga. Siapakah itu? Ya publik sendiri. Tak mau suatu obyek dihargai? Jangan tampilkan di hadapan publik. Mudah toh?

Pada umumnya, publik ingin dihargai, sebagai bahan evaluasi diri. Bukan malah dengan menutup diri, karena tak ingin menerima penghargaan dengan nilai negatif.

Apakah anda termasuk yang demikian?

Yogyakarta, Januari 2010

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Tinggalkan Komentar

Maw Berangus Komentar?

Manusia diberi nikmat oleh-Nya untuk mampu berpikir. Sayangnya kita semua tak pernah serempak berpikir sama. Namun tunggu, kenapa malah disayangkan? Bukankah dengan ketak–serempakan itu tercipta rasa diantara sesama manusia?

Rasa yang muncul dari pikiran hanya mampu dikecap oleh pemikiran kita pula. Layaknya rasa yang terkecap oleh lidah, ada manis, asam, asin, dan pahit. Kita bicara rasa, maka kita bicara selera. Ujungnya, enak dan tidak enak. Itu berbeda antar sesama manusia.

Adalah artikel blog, hasil dari pemikiran kita yang tersaji dalam untaian kata. Dan tentu ada rasa di dalamnya. Entah itu manis, asam, asin, atau pahit. Tergantung dari sang pencipta artikel dan kemampuan otak kita untuk mencerna makna di dalamnya.

Sebuah kotak komentar, menurut saya adalah cermin dari keterbukaan. Tentu yang dimaksud adalah terbuka menampung aspirasi. Aspirasi dari para pengecap artikel yang sering disapa sebagai komentator. Dan aspirasi pun juga punya rasa; manis, asam, asin, atau pahit. Sebab semua berasal dari pemikiran manusia.

Hubungan yang seimbang bukan? Ada rasa yang disajikan oleh pencipta artikel. Adapun aspirasi yang disajikan oleh pembaca artikel.

Namun tak jarang aspirasi menjadi polemik dan dimasukkan dalam bingkai terlarang. Apa sebab terlarang itu adalah rasa yang tak ingin dikecap oleh sang pencipta artikel. Sedangkan pembaca artikel tak punya hak untuk melarang, sebab artikel itu tersaji di ranah maya, siap dibaca oleh siapapun yang melihatnya.

Kalau sudah begini, apalah gunanya kotak komentar? Apakah keterbukaan itu hanya kenyataan semu semata? Ketika semua aspirasi yaitu komentar yang bukan merupakan selera pencipta artikel diberangus, apakah disana ada keterbukaan?

Dengan demikian prinsip, “Kalian bebas asalkan aku tak terganggu”, masih mengakar kuat diantara kita. Tanda bahwa kita tak siap untuk mengecap berbagai rasa. Tanda bahwa kita tak mampu bertoleransi.

Kalau memang tak siap, tak usahlah mencoba terbuka. Seakan-akan malah jadi kelakar semata. Tak perlu diberi kotak komentar. Tak perlu diterbitkan artikel. Mudah toh?

Ketika komentar diberangus, ketika itu pula toleransi mati.

Yogyakarta, 5 Januari 2010

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar