Archive for Januari, 2010

Maw Tak Tersadar?

Seingatku, ia tak pernah berubah. Sehingga aku kerap mengulang pertanyaan;

“Apa yang kau keluhkan ?”

Dan dirinya akan bercerita mengenai kemalangan yang menimpanya. Bagaimana ia menjadi tak berdaya dengan segala kemalangan itu. Bagaimana ia seakan tak punya tenaga untuk bangkit. Padahal apa yang dirinya keluhkan hanyalah hal-hal sepele. Seputar wanita dan kuliah. Bukan perkara besar yang melibatkan hajat hidup orang banyak.

Untuk yang kesekian kali, aku akan kembali menyadarkannya. Bahwa dirinya terlalu melebih-lebihkan apa yang ia keluhkan. Berkali-kali pula ia tersadar. Namun berkali-kali pula ia selalu terpuruk kembali dalam jurang keluh dan kesah.

Sering aku bergumam dalam hati. Ternyata ada manusia semacam ini.

Tidak hanya aku. Beberapa diantara kami juga melakukan hal serupa. Entah sudah berapa kali kami berusaha menyadarkannya. Entah cara apa lagi yang mesti kami gunakan untuk membuatnya bangun. Ia terlalu menikmati memimpikan keluhan-keluhannya itu.

Hingga apa yang kami perbuat untuk menyadarkannya membuatnya terganggu.
Entah mengapa ia sangat menikmati mimpi berkeluh-kesahnya itu.
Entah mengapa ia menuduh kami telah mengusiknya dengan perbuatan yang tak pantas.
Entah mengapa orang yang terdekat dengannya tak juga membantu menyadarkannya.

Namun kami tak akan menyerah dan meninggalkan ia terbuai dengan keluh-kesahnya itu.
Karena kami masih menganggapnya sebagai bagian dari keutuhan kami.

Walau hanya Tuhan yang tahu segala yang kami perbuat.
Walau benar dan salah kian tersamar oleh perasaan dan alasan.
Walau hari demi hari kami semakin terpojokkan.

Kami tahu,
suatu saat ia kan tersadar,
walau itu tak kan pernah mudah,
walau ada yang harus dikorbankan.

Kelak, ia kan tersadar. Kelak, ia kan tak mengeluh lagi.

Maw Dihargai?

Adalah sebuah kata bernama penghargaan. Tentu kita semua tahu, penghargaan berasal dari kata harga. Apakah itu harga, saya definisikan sebagai sesuatu yang punya nilai.

Tak seperti ajang penghargaan di televisi, yang segala sesuatunya serba terbatas. Dalam kehidupan nyata, siapapun bisa memberikan penghargaan. Tak pandang bulu, tak pandang kelas. Begitu pula dengan obyek yang diberi penghargaan. Kita sebut itu apresiasi publik.

Memberikan penghargaan adalah suatu bentuk perilaku. Bisa disingkat menjadi menghargai. Apa ada yang salah? Menghargai adalah paduan kata dasar harga, dengan imbuhan me-, beserta akhiran -i. Arti mudahnya adalah memberi harga.

Bicara perihal harga dan menghargai, pikiran saya langsung melayang menuju susana pasar. Ada kalanya sekerat ikan pindang tak layak dihargai Rp 4.000. Sebab mungil dan nyaris basi. Itu tak sebanding dengan penghargaan yang diberikan sang penjual. Ya, di pasar, setiap pembeli berhak menghargai apa-apa yang dijajakan oleh sang penjual. Menghargai dan mempertahankan penghargaan, tak lain adalah proses tawar-menawar.

Sebab itu, wajarlah saya tergelitik menanggapi hal-hal yang mengikut-sertakan kata menghargai. Dimana ada beberapa orang yang mesinonimkan kata tersebut dengan kalimat perintah; “Tak usahlah kau berkomentar! Terima sajalah apa adanya!”. Adapun beberapa orang yang memadankan kata menghargai dengan perilaku memberi nilai setinggi-tingginya. Melambungkan hati sang pencipta karya menuju alam kebanggaan. Itukah yang disebut dengan menghargai?

Bagi saya tetap, menghargai adalah suatu perilaku memberikan penghargaan berupa nilai kepada suatu obyek. Nilai itupun adalah suatu takaran yang tak terikat bilangan angka. Penghargaaan bagi obyek yang menurut saya buruk, tentu berbeda dari obyek yang menurut saya baik.

Semua obyek yang terpapar di hadapan publik, berhak diberikan penghargaan (dihargai). Apakah nanti nilainya negatif ataukah positif, itu akan berbeda-beda. Tergantung kepada sang pemberi harga. Siapakah itu? Ya publik sendiri. Tak mau suatu obyek dihargai? Jangan tampilkan di hadapan publik. Mudah toh?

Pada umumnya, publik ingin dihargai, sebagai bahan evaluasi diri. Bukan malah dengan menutup diri, karena tak ingin menerima penghargaan dengan nilai negatif.

Apakah anda termasuk yang demikian?

Yogyakarta, Januari 2010

Maw Berangus Komentar?

Manusia diberi nikmat oleh-Nya untuk mampu berpikir. Sayangnya kita semua tak pernah serempak berpikir sama. Namun tunggu, kenapa malah disayangkan? Bukankah dengan ketak–serempakan itu tercipta rasa diantara sesama manusia?

Rasa yang muncul dari pikiran hanya mampu dikecap oleh pemikiran kita pula. Layaknya rasa yang terkecap oleh lidah, ada manis, asam, asin, dan pahit. Kita bicara rasa, maka kita bicara selera. Ujungnya, enak dan tidak enak. Itu berbeda antar sesama manusia.

Adalah artikel blog, hasil dari pemikiran kita yang tersaji dalam untaian kata. Dan tentu ada rasa di dalamnya. Entah itu manis, asam, asin, atau pahit. Tergantung dari sang pencipta artikel dan kemampuan otak kita untuk mencerna makna di dalamnya.

Sebuah kotak komentar, menurut saya adalah cermin dari keterbukaan. Tentu yang dimaksud adalah terbuka menampung aspirasi. Aspirasi dari para pengecap artikel yang sering disapa sebagai komentator. Dan aspirasi pun juga punya rasa; manis, asam, asin, atau pahit. Sebab semua berasal dari pemikiran manusia.

Hubungan yang seimbang bukan? Ada rasa yang disajikan oleh pencipta artikel. Adapun aspirasi yang disajikan oleh pembaca artikel.

Namun tak jarang aspirasi menjadi polemik dan dimasukkan dalam bingkai terlarang. Apa sebab terlarang itu adalah rasa yang tak ingin dikecap oleh sang pencipta artikel. Sedangkan pembaca artikel tak punya hak untuk melarang, sebab artikel itu tersaji di ranah maya, siap dibaca oleh siapapun yang melihatnya.

Kalau sudah begini, apalah gunanya kotak komentar? Apakah keterbukaan itu hanya kenyataan semu semata? Ketika semua aspirasi yaitu komentar yang bukan merupakan selera pencipta artikel diberangus, apakah disana ada keterbukaan?

Dengan demikian prinsip, “Kalian bebas asalkan aku tak terganggu”, masih mengakar kuat diantara kita. Tanda bahwa kita tak siap untuk mengecap berbagai rasa. Tanda bahwa kita tak mampu bertoleransi.

Kalau memang tak siap, tak usahlah mencoba terbuka. Seakan-akan malah jadi kelakar semata. Tak perlu diberi kotak komentar. Tak perlu diterbitkan artikel. Mudah toh?

Ketika komentar diberangus, ketika itu pula toleransi mati.

Yogyakarta, 5 Januari 2010

Maw Bercinta Berdua?

Pacaran itu mayoritas selalu berduaan. Pria dan wanita itu saling berkasih-kasih. Jadi lumrah kalau ada pepatah, “Dunia serasa milik berdua”.

Tapi dunia tersebut bukan seluruh bumi yang bulat, besar nan luas ini. Melainkan secuil tempat di sekitar kita, yang masih bisa dilihat oleh mata. Misalnya taman, kantin, halaman, bahkan kamar tidur.

Bagi saya, pacaran di dalam kamar tidur itu bukan tindakan yang terpuji. Namun saya yakin ada banyak diantara kita yang pernah melakukannya. Utamanya adalah mereka yang hidup jauh dari orangtua. Sebab tak ada yang memantau siapa saja yang keluar-masuk kamar.

Tak jarang hal ini berakhir pada perdebatan. Faktor norma, adat, kesusilaan, dan agama dibenturkan pada faktor realita. Bahkan dalih klasik, “selama tak terjadi apa-apa”, kerap terdengar sebagai pembelaan. Karena itu pantaslah dewasa ini kita kerap temui mereka yang tengah berkasih-mesra–rangkul dan cium–di muka publik. Adapun mereka yang sungkan melakukannya kerap berdalih, “malu dilihat orang”, bukan “malu dilihat Tuhan”.

Seorang teman saya melakukannya. Ironisnya, teman saya itu dikenal sebagai pribadi yang taat beragama. Bahkan dengan kaum wanita pun, ia menjaga jarak. Namun kini, beh, teman saya itu bagaikan seorang munafik. Setelah apa yang ia dan kekasihnya perbuat, saya merasa terkhianati.

Kata teman saya yang lain, “temanmu itu khilaf”. Dia khilaf, tentu saya ingatkan. Namun saya tak mau mendengar pembelaan terlontar dari mulutnya, “bahwa tak ada rumah yang mau menampungku selain rumah kekasihku itu”. Alasan yang sungguh tak masuk akal. Sebab masih ada rumah seorang kawan prianya yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari rumah kekasihnya itu.

Saya tak mau terima alasan darinya, “Wis kamu tenang saja”. Sebab saya dan juga para tetangga rumah kekasihmu itu tak tenang dengan kelakuanmu.

Demi Tuhan. Cinta telah membuat teman saya itu buta. Cinta telah membuat dirinya bodoh. Cinta telah membuat dirinya bagaikan seorang munafik.

Ini semua, berawal dari berkasih-mesra di dalam kamar, berduaan.

Yogyakarta, 5 Januari 2010