Seingatku, ia tak pernah berubah. Sehingga aku kerap mengulang pertanyaan;
“Apa yang kau keluhkan ?”
Dan dirinya akan bercerita mengenai kemalangan yang menimpanya. Bagaimana ia menjadi tak berdaya dengan segala kemalangan itu. Bagaimana ia seakan tak punya tenaga untuk bangkit. Padahal apa yang dirinya keluhkan hanyalah hal-hal sepele. Seputar wanita dan kuliah. Bukan perkara besar yang melibatkan hajat hidup orang banyak.
Untuk yang kesekian kali, aku akan kembali menyadarkannya. Bahwa dirinya terlalu melebih-lebihkan apa yang ia keluhkan. Berkali-kali pula ia tersadar. Namun berkali-kali pula ia selalu terpuruk kembali dalam jurang keluh dan kesah.
Sering aku bergumam dalam hati. Ternyata ada manusia semacam ini.
Tidak hanya aku. Beberapa diantara kami juga melakukan hal serupa. Entah sudah berapa kali kami berusaha menyadarkannya. Entah cara apa lagi yang mesti kami gunakan untuk membuatnya bangun. Ia terlalu menikmati memimpikan keluhan-keluhannya itu.
Hingga apa yang kami perbuat untuk menyadarkannya membuatnya terganggu.
Entah mengapa ia sangat menikmati mimpi berkeluh-kesahnya itu.
Entah mengapa ia menuduh kami telah mengusiknya dengan perbuatan yang tak pantas.
Entah mengapa orang yang terdekat dengannya tak juga membantu menyadarkannya.
Namun kami tak akan menyerah dan meninggalkan ia terbuai dengan keluh-kesahnya itu.
Karena kami masih menganggapnya sebagai bagian dari keutuhan kami.
Walau hanya Tuhan yang tahu segala yang kami perbuat.
Walau benar dan salah kian tersamar oleh perasaan dan alasan.
Walau hari demi hari kami semakin terpojokkan.
Kami tahu,
suatu saat ia kan tersadar,
walau itu tak kan pernah mudah,
walau ada yang harus dikorbankan.
Kelak, ia kan tersadar. Kelak, ia kan tak mengeluh lagi.