“Apa mau mereka!?”
Aku cuma bisa terdiam mendengar apa yang diucapkannya. Melihat apa yang ditunjuknya. Aku berharap tak mendengar. Aku pun berharap tak melihat. Namun aku tak bisa mengelak dari semua kenyataan ini.
“Ini sungguh aneh! Benar-benar aneh! Serasa kami dikhianati oleh apa yang menopang hidup kami selama ini.”
Dia menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.
“Tanah ini! Sudah banyak memberi kami semua kehidupan! Sungai yang tak pernah kering. Ladang sawah yang subur. Semua itu membuat kami hidup hingga saat ini.”
“Kamu tahu nak? Kami tak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk bisa hidup. Kami berbalas hidup bersama alam.”
“Tapi kini nak, semua berubah. Tak ada lagi hamparan sawah yang bisa kau temui disini. Dan sungai itu, ah, entah kapan airnya akan melimpah seperti masaku dahulu.”
Dia menuding ke arah bangunan beton itu.
“Itu semua karena mereka! Demi Tuhan! Mereka yang mengaku berpendidikan tinggi. Yang mengaku akan membuat semua orang sejahtera. Namun akibatnya hidup kami jadi sengsara. Karena mereka telah mengambil alam dari kami! Alam yang telah menghidupi kami semua!”
“Apa kamu tahu nak? Barangkali hidup di masa ini, memang tak mungkin selaras dengan alam. Entah kehidupan apa yang mereka kehendaki? Sampai-sampai mereka merebut kehidupan kami. Apa mereka tak bisa hidup seperti kami? Berbalas hidup bersama alam?”
Aku tak bisa berkata apa-apa.
0 Responses to “Maw Apa Mereka?”