Maw, Apa Bahasamu?

“Ya, Tuhan!”, saya nepok jidat.

“Ternyata saya ndak bisa bahasa Indonesia!”.

Bahasa Indonesia kan bahasa kesatuan. Lha gimana bangsa kita mau bersatu kalau saya ndak bisa berbahasa Indonesia? Kalau saya masih asal comot dan pasang kosakata sana-sini?

“Ya, Tuhan!”, jidat saya tepok lagi.

“Ternyata saya juga ndak bisa bahasa Jawa!”

Bahasa Jawa kan bahasa daerah suku saya. Lha gimana saya mau melestarikan budaya bangsa kalau saya ndak bisa berbahasa Jawa? Kalau saya masih berbicara campur-aduk ngoko dan krama?

“Ya, Tuhaan!”, lagi-lagi saya tepok jidat.

“Ternyata saya ndak bisa ngerti bahasa Inggris!”

Bahasa Inggris kan bahasa internasional. Lha gimana saya mau menjalin relasi dengan bangsa luar kalau saya ndak bisa berbahasa Inggris? Apalagi di jaman sekarang ini, bahasa Inggris seakan menjadi syarat wajib mendapatkan limpahan rejeki.

Tapi…

“Ya, Tuhaaan!”, saya ndak nepok jidat karena udah perih.

“Ternyata saya sama sekali ndak bisa bahasa Arab!”

Agama saya, Islam, kan memakai Bahasa Arab. Kalau saya ndak bisa Bahasa Arab bagaimana saya mau mendalami agama saya? Kalau saya hanya bisa baca tanpa ngerti artinya.

Ini distorsi.

Ketika manusia dihadapkan dengan ragam bentuk tata-cara berkomunikasi.

Ketika manusia lupa makna sesungguhnya dari komunikasi tersebut.

Bahasa apa yang bisa menyatukan manusia?

Ya Tuhan, bahasa apa yang Engkau gunakan?

1 Response to “Maw, Apa Bahasamu?”


  1. 1 em Mar 14th, 2010 at 9:44 am

    Ngetest comment

    Esensi org berkomunikasi kan sama2 paham :p

    Met belajar bahasa arab! Eh, bahasa jakarte belum tuh :p

Leave a Reply

kucing